Langsung ke konten utama

Milad HMI Ke-71, HMI Cabang Bogor Tasyakuran

Diskusi antar-kader HMI Cabang Bogor setelah Pembacaan Surah Yasin dalam memperingati Milad HMI Ke-71


Sebagai bentuk rasa syukur HMI telah mencapai usia 71 tahun, HMI Cabang Bogor mengadakan tasyakuran pada Minggu Malam (4/1) kemarin. Agenda tasyakuran ini meliputi pembacaan Surah Yasin bersama kader HMI Cabang Bogor sebagai bentuk pengiriman doa bagi Lafran Pane dan pendiri HMI lainnya umumnya dan HMI Cabang Bogor khususnya.

Setelah pembacaan Surah Yasin, dilanjukan dengan pembacaan Puisi oleh Kakanda Paradha Wihandi (Kabid LH HMI Cabang Bogor) dengan membawakan salah satu karya WS Rendra. Setelah itu, acara dilanjutkan kepada diskusi dan tukar pikiran tentang masalah HMI saat ini dan arah pembaharuan perkaderan HMI secara umum dalam konteks ‘zaman now’.

Acara tasyakuran berjalan dengan lancar, khususnya sesi diskusi dan tukar pikiran yang begitu hangat dan dinamis sehingga hingga penutupan acara, diskusi masih berlanjut secara informal. [Kmi]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA DAN BAGAIMANA SETELAH MASUK HMI? (Sesi Wawancara dengan Ketum HMI Cabang Bogor)

                    Pada kesempatan ini kami sengaja kembali menghadirkan sesi wawancara khusus dengan ketua umum HMI Cabang Bogor periode 2013-2014, Bang Qiki Qilang Syachbudy. Wawancara ini sengaja dilakukan karena banyaknya pertanyaan baik dari kader ataupun masyarakat umum tentang apa dan bagaimana yang harus dilakukan setelah menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Berikut adalah wawancaranya.

Ini Pesan Ketum Fateta Sebelum Lengser

Jadikanlah organisasi sesuai dengan akar katanya organ. Gerakan yang harus harmoni dan bersimponi antara satu sama lain. Organisasi mengharuskan kerjasama sebagai penggeraknya. Kalimat tersebut dikatakan Ketua umum (Ketum) demisioner komisariat Fateta IPB, Paradha Wihandi Simarmata, Jumat (17/11/2017). "Komisariat Fateta kami jalankan dengan semangat berbeda dan berpikir mandiri. Militansi adalah penggerak organisasi," tutur Paradha ketika menyampaikan kondisi internal dalam pleno III bertempat di Mushola Bateng, Dramaga. Menanggapi persoalan membangun kekompakan komisariat, Paradha menyampaikan pentingnya kebersamaan. Menderita dan bahagia bersama.  "Kita harus siap membeli cita cita dengan penderitaan. Membangun organisasi harus dimulai dari rasa memiliki. Komisariat Fateta bukan milik individu tapi punya kita semua. Selain itu kita juga harus tetap menjaga semangat membaca," ungkap pemuda yang jago karate tersebut. Swkretaris Umum (Sekum) Fa...

Potong Generasi Politikus Rakus!

Letih dan jengah adalah dua perasaan yang mendominasi ketika melihat dunia politik tanah air. Perebutan kekuasaan merupakan domain pasti dalam setiap momen politik. Partai politik sudah kian kabur tujuan ideologinya. Tak jelas arah dan orientasinya. Kegaduhan terjadi hampir di setiap lini, entah di tingkat internal maupun eksternal. Wajar jika kemudian fenomena ini menghasilkan banjir pesimis dan arus ketidakpercayaan masyarakat kepadanya.